Bukan
suatu hal yang mudah untuk menuangkan seluruh isi hati dan kepala
ditengah-tengah sibuknya mengurus bayik dan rumah. Selalu saja ada iklan-iklan
kecil yang lewat yang bikin isi kepala jadi ngeblank mau nulis apa.
Memutuskan
untuk menjadi full time mom dan sudah hampir 2 bulan saya di rumah bukanlah
perkara yang mudah. Meski hal ini sudah pernah saya alami sebelumnya. Butuh
penyesuaian kondisi lagi dari yang sebelumnya sering bekerja diluar dan
sekarang harus stay di rumah. Dan hal ini yang menurut saya agak berat.
Bagi
saya tidak masalah menjadi full time mom. Justru saya jadi lebih senang karena
bisa lebih dekat dengan keluarga, bisa menemani anak-anak dan memantau tumbuh
kembang mereka secara langsung. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa setiap
keputusan yang kita ambil tentunya tidak bisa lepas dari konsekuensi yang ada.
Ada plus minus dan suka dukanya sendiri. Ada hal-hal yang bisa dikendalikan ada
juga yang tidak.
Waktu
yang fleksibel, menjadi kelebihan tersendiri yang dimiliki oleh seorang full
time mom. Disinilah dituntut untuk lebih mawas diri dalam mengatur waktu dan
memanage diri agar lebih produktif. Saya yang memang berkeinginan untuk bisa
bekerja dari rumah selepas menikah, sangat mengidamkan profesi satu ini.
Alasannya sederhana, bisa merawat dan menemani anak-anak secara langsung. Tak
ingin merepotkan orang tua karena harus ikut mengasuh anak. Saya sendiri tipe
orang yang agak pilih-pilih untuk menitipkan pengasuhan anak ke orang lain, apalagi
ke orangtua. Bagi saya ini merupakan cara untuk mahabbah ke orangtua. Mereka
sudah merawat, mendidik dan membesarkan kita dari masih bayik sampai dewasa.
Tak sampai hati jika harus menyerahkan penjagaan dan pengasuhan anak kepada
mereka yang sudah mulai memasuki usia senja. Ini menurut pendapat dan pandangan
saya saja dan mungkin setiap orang punya
pandangan dan pemikiran yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi mereka
masing-masing.
Lantas,
kenapa tidak sewa pengasuh saja? Mungkin banyak mom berpikir seperti itu
sebagai solusi. Iya, tentu ada banyak pertimbangan yang melatar belakangi dalam
memutuskan mengambil pengasuh atau tidak. Diantaranya, masalah finansial dan
juga keinginan untuk mengasuh anak sendiri. Mengasuh anak, merupakan suatu
moment yang tak akan pernah terulang kembali dan terjadi hanya sekali. Tak
ingin melewatkan masa-masa golden age dan menanamkan pondasi dasar kehidupan ke
anak. Intinya, ini merupakan cara bagi saya untuk mahabbbah ke anak sebagai
mencari jalan ridhonya. Harapnnya semoga anak ini kelak tumbuh menjadi pribadi
yang beriman, mandiri, kuat dan tentunya bermanfaat bagi sesama.
Bukan
berarti mereka yang working mom tidak melakukannya. Semua ibu pasti akan melakukan
hal yang terbaik buat keluarga dengan caranya masing-masing sesuai dengan
kondisi mereka. Tergantung dimana letak bahagianya seorang mom dalam
melakukannya.
Hal
terberat...
Sebenarnya
bagi saya mau jadi working mom atau full time mom tak begitu masalah bagi saya.
Hanya saja ada beberapa hal yang buat jadi tantangan dan itu adalah masalah
finansial. Hehehe...
Ya iya
lah ya biasa kerja dan pegang uang sendiri dan sekarang enggak rasanya tuh gimana
gitu. Hehehe... rasanya mode kehidupan 7 tahun yang lalu bakal terulang kembali
dan itu nyata. Aduh pusiingg.... jelas. Entah enggak tahu kenapa disaat saya
resaign selalu ada saja cobaan finansial yang datang. Dulu, ketika resaign pas
anak pertama, tiba-tiba jam ngajar pak suami berkurang hampir 50%. Waduh...
mulai kencengenin ikat pinggang nih. Bukan karena apa, tapi karena pergantian
kurikulum, jadi jam mengajar berubah. Jadi ya sabarnya harus ditambah. Ditengah
gempuran finansial yang tak menentu, Allah pasti tahu dan sayang pada hambanya.
Entah jalan dari mana Allah pasti ngasih solusi dan sudah menjamin rezeki
setiap hambanya sesuai dengan takarannya. Tugas kita itu terus berdoa dan jangan
berhenti ikhtiar. Di masa ini bisa jadi cobaan yang agak menguras emosional
dalam pernikahan kami.
Dan
mode ini pun terulang kembali saat saya resaign untuk bayik yang kedua.
Alasannya sama, ingin fokus dulu ke keluarga. Namun, untuk yang kedua kalinya
ini jauh lebih slow dalam menghadapi. Lebih tenang dan tidak gegabah dalam
menghadapi kesulitan yang ada. Pasalnya yang kedua kalinya ini pun jam ngajar
suami berkurang lantaran ada beberapa rekan kerja yang masih hobi nikung. Tapi
enggak apa-apa, tetap diperjuangkan dan berhusnudhon saja sama sang pemberi
rezeki. Dan alhamdulillah meski jam ngajar berkurang, namun rezekinya masih
sama. Punya banyak waktu dengan keluarga dan bisa lebih fokus dalam
mengembangkan usaha dibidang desain dan illustrasi. Dinikmati prosesnya,
disyukuri yang ada, insyaallah nambah dan berkah. Saya pun bersyukur,
disela-sela menjaga dan mengasuh buah hati, bisa saya pergunakan waktu untuk
melatih skill menulis lagi setelah sekian purnama tak terjamahkan. Intinya
jangan lupa untuk bersyukur terhadap nikmat-nikmat kecil yang telah diberikan
oleh Sang Pencipta.
*keluarga
sakinah, usaha mudah, rezeki melimpah, hidup berkah*
.jpeg)
Semua itu pilihan ya
BalasHapusiya mbak. semua tentang pilihan
BalasHapus