kembali ke mode 7 tahun lalu

 

 

Bukan suatu hal yang mudah untuk menuangkan seluruh isi hati dan kepala ditengah-tengah sibuknya mengurus bayik dan rumah. Selalu saja ada iklan-iklan kecil yang lewat yang bikin isi kepala jadi ngeblank mau nulis apa.

Memutuskan untuk menjadi full time mom dan sudah hampir 2 bulan saya di rumah bukanlah perkara yang mudah. Meski hal ini sudah pernah saya alami sebelumnya. Butuh penyesuaian kondisi lagi dari yang sebelumnya sering bekerja diluar dan sekarang harus stay di rumah. Dan hal ini yang menurut saya agak berat.

Bagi saya tidak masalah menjadi full time mom. Justru saya jadi lebih senang karena bisa lebih dekat dengan keluarga, bisa menemani anak-anak dan memantau tumbuh kembang mereka secara langsung. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa setiap keputusan yang kita ambil tentunya tidak bisa lepas dari konsekuensi yang ada. Ada plus minus dan suka dukanya sendiri. Ada hal-hal yang bisa dikendalikan ada juga yang tidak.

Waktu yang fleksibel, menjadi kelebihan tersendiri yang dimiliki oleh seorang full time mom. Disinilah dituntut untuk lebih mawas diri dalam mengatur waktu dan memanage diri agar lebih produktif. Saya yang memang berkeinginan untuk bisa bekerja dari rumah selepas menikah, sangat mengidamkan profesi satu ini. Alasannya sederhana, bisa merawat dan menemani anak-anak secara langsung. Tak ingin merepotkan orang tua karena harus ikut mengasuh anak. Saya sendiri tipe orang yang agak pilih-pilih untuk menitipkan pengasuhan anak ke orang lain, apalagi ke orangtua. Bagi saya ini merupakan cara untuk mahabbah ke orangtua. Mereka sudah merawat, mendidik dan membesarkan kita dari masih bayik sampai dewasa. Tak sampai hati jika harus menyerahkan penjagaan dan pengasuhan anak kepada mereka yang sudah mulai memasuki usia senja. Ini menurut pendapat dan pandangan saya saja dan  mungkin setiap orang punya pandangan dan pemikiran yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi mereka masing-masing.

Lantas, kenapa tidak sewa pengasuh saja? Mungkin banyak mom berpikir seperti itu sebagai solusi. Iya, tentu ada banyak pertimbangan yang melatar belakangi dalam memutuskan mengambil pengasuh atau tidak. Diantaranya, masalah finansial dan juga keinginan untuk mengasuh anak sendiri. Mengasuh anak, merupakan suatu moment yang tak akan pernah terulang kembali dan terjadi hanya sekali. Tak ingin melewatkan masa-masa golden age dan menanamkan pondasi dasar kehidupan ke anak. Intinya, ini merupakan cara bagi saya untuk mahabbbah ke anak sebagai mencari jalan ridhonya. Harapnnya semoga anak ini kelak tumbuh menjadi pribadi yang beriman, mandiri, kuat dan tentunya bermanfaat bagi sesama.

Bukan berarti mereka yang working mom tidak melakukannya. Semua ibu pasti akan melakukan hal yang terbaik buat keluarga dengan caranya masing-masing sesuai dengan kondisi mereka. Tergantung dimana letak bahagianya seorang mom dalam melakukannya.

Hal terberat...

Sebenarnya bagi saya mau jadi working mom atau full time mom tak begitu masalah bagi saya. Hanya saja ada beberapa hal yang buat jadi tantangan dan itu adalah masalah finansial. Hehehe...

Ya iya lah ya biasa kerja dan pegang uang sendiri dan sekarang enggak rasanya tuh gimana gitu. Hehehe... rasanya mode kehidupan 7 tahun yang lalu bakal terulang kembali dan itu nyata. Aduh pusiingg.... jelas. Entah enggak tahu kenapa disaat saya resaign selalu ada saja cobaan finansial yang datang. Dulu, ketika resaign pas anak pertama, tiba-tiba jam ngajar pak suami berkurang hampir 50%. Waduh... mulai kencengenin ikat pinggang nih. Bukan karena apa, tapi karena pergantian kurikulum, jadi jam mengajar berubah. Jadi ya sabarnya harus ditambah. Ditengah gempuran finansial yang tak menentu, Allah pasti tahu dan sayang pada hambanya. Entah jalan dari mana Allah pasti ngasih solusi dan sudah menjamin rezeki setiap hambanya sesuai dengan takarannya. Tugas kita itu terus berdoa dan jangan berhenti ikhtiar. Di masa ini bisa jadi cobaan yang agak menguras emosional dalam pernikahan kami.

Dan mode ini pun terulang kembali saat saya resaign untuk bayik yang kedua. Alasannya sama, ingin fokus dulu ke keluarga. Namun, untuk yang kedua kalinya ini jauh lebih slow dalam menghadapi. Lebih tenang dan tidak gegabah dalam menghadapi kesulitan yang ada. Pasalnya yang kedua kalinya ini pun jam ngajar suami berkurang lantaran ada beberapa rekan kerja yang masih hobi nikung. Tapi enggak apa-apa, tetap diperjuangkan dan berhusnudhon saja sama sang pemberi rezeki. Dan alhamdulillah meski jam ngajar berkurang, namun rezekinya masih sama. Punya banyak waktu dengan keluarga dan bisa lebih fokus dalam mengembangkan usaha dibidang desain dan illustrasi. Dinikmati prosesnya, disyukuri yang ada, insyaallah nambah dan berkah. Saya pun bersyukur, disela-sela menjaga dan mengasuh buah hati, bisa saya pergunakan waktu untuk melatih skill menulis lagi setelah sekian purnama tak terjamahkan. Intinya jangan lupa untuk bersyukur terhadap nikmat-nikmat kecil yang telah diberikan oleh Sang Pencipta.

*keluarga sakinah, usaha mudah, rezeki melimpah, hidup berkah*





Komentar

Posting Komentar